Punakawan versi Banyumas mengisahakan ketika Sanghyang Ismaya menjadi Semar, turun
ke bumi, Bumi masih awang-uwung, tak ada satupun makhluk hidup di bumi.
Oleh karena itu kemudian Sanghyang Wenang menciptakan bayangan Semar
menjadi sesosok manusia dengan postur tubuh yang relatif sama, diberi
nama Bawor yang bertugas menemani Semar. Atas dasar dari kejadian itu,
kemudian Bawor diakui sebagai anak tertua dari tokoh Semar. Anak kedua
dan ketiga adalah Nala Gareng dan Petruk.
Tokoh Bawor adalah maskot masyarakat Banyumas. Ciri utama dari wayang
kulit gagrag Banyumasan adalah nafas kerakyatannya yang begitu kental
dan Ki Dalang memang berupaya menampilkan realitas dinamika kehidupan
yang ada di masyarakat.
Riwayat gaya Jawatimuran adalah ketika Sang Hyang Ismaya turun ke
bumi menjelma menjadi Semar, Semar diutus oleh Sang Hyang Tunggal agar
menuju Keling, selanjutnya Semar membutuhkan teman. Bayang-bayangnya
sendiri lalu dicipta menjadi bentuk yang hampir mirip dengannya, yang
dinamakan Bagong.
Ba artinya bek, gong artinya gedhe. Juga dinamakan (Sanghyang) Bladu,
Bla adalah belah/sigar, dho artinya loro, bahwa Bagong terjadi dari
belahan yang menjadi dua.
Disebut Mangun Hadiwangsa, karena dia yang mempunyai kewajiban untuk
membangun (mangun) agar wangsa (bangsa) menjadi baik atau adi. Nama
lainnya Jamblahita. Jambla yang berarti bodoh, hita adalah temen
(jujur). Ia bodoh tetapi jujur dan serius.
Semar dan Bagong diberi satu senjata. Namun, senjata tersebut
diperebutkan berdua sehingga melebar dan berubah wujud manusia yang
dinamai Saraganja serta menjadi kawan Semar.