Indonesian Business News from Sulawesi-Kalimantan-Maluku-Papua

Rabu, 04 Desember 2013

Bahasa Sanskerta




























Bahasa Sanskerta (ejaan tidak baku: "Sansekerta") adalah salah satu bahasa Indo-Eropa paling tua yang masih dikenal dan sejarahnya termasuk yang terpanjang. Bahasa yang bisa menandingi 'usia' bahasa ini dari rumpun bahasa Indo-Eropa hanya bahasa Het. Kata Sanskerta, dalam bahasa Sanskerta Saṃskṛtabhāsa artinya adalah bahasa yang sempurna. Maksudnya, lawan dari bahasa Prakerta, atau bahasa rakyat.
Bahasa Sanskerta merupakan sebuah bahasa klasik India, sebuah bahasa liturgis dalam agama Hindu, Buddhisme, dan Jainisme dan salah satu dari 23 bahasa resmi India. Bahasa ini juga memiliki status yang sama di Nepal.
Posisinya dalam kebudayaan Asia Selatan dan Asia Tenggara mirip dengan posisi bahasa Latin dan Yunani di Eropa. Bahasa Sanskerta berkembang menjadi banyak bahasa-bahasa modern di anakbenua India. Bahasa ini muncul dalam bentuk pra-klasik sebagai bahasa Weda. Yang terkandung dalam kitab Rgweda merupakan fase yang tertua dan paling arkhais. Teks ini ditarikhkan berasal dari kurang lebih 1700 SM dan bahasa Sanskerta Weda adalah bahasa Indo-Arya yang paling tua ditemui dan salah satu anggota rumpun bahasa Indo-Eropa yang tertua.
Khazanah sastra Sanskerta mencakup puisi yang memiliki sebuah tradisi yang kaya, drama dan juga teks-teks ilmiah, teknis, falsafi, dan agamis. Saat ini bahasa Sanskerta masih tetap dipakai secara luas sebagai sebuah bahasa seremonial pada upacara-upacara Hindu dalam bentuk stotra dan mantra. Bahasa Sanskerta yang diucapkan masih dipakai pada beberapa lembaga tradisional di India dan bahkan ada beberapa usaha untuk menghidupkan kembali bahasa Sanskerta.
Yang akan dibicarakan di artikel ini adalah bahasa Sanskerta Klasik seperti diulas pada tata bahasa Sanskerta karangan Panini, pada sekitar tahun 500 SM.

Sejarah


Naskah Devimahatmya pada daun lontar menggunakan aksara Bhujimol awal, berasal dari Bihar atau Nepal, abad ke-11.
Kata sifat saṃskṛta- berarti "berbudaya". Bahasa yang dirujuk sebagai saṃskṛtā vāk "bahasa yang berbudaya" secara definisi sudah selalu merupakan bahasa yang "tinggi", dipakai untuk keperluan agama dan keperluan ilmiah serta bertentangan dengan bahasa yang dipakai oleh rakyat jelata. Bahasa ini juga disebut deva-bhāṣā yang artinya adalah "bahasa Dewata". Tata bahasa Sanskerta tertua yang masih lestari ialah karangan Pāṇini dan berjudulkan Aṣṭādhyāyī ("Tata Bahasa Delapan Bab") yang kurang lebih ditarikh berasal dari abad ke-5 SM. Tata bahasa ini terutama merupakan tata bahasa normatif atau preskriptif yang terutama mengatur cara pemakaian yang baku dan bukan deskriptif, meski tata bahasa ini juga memuat bagian-bagian deskriptif terutama mengenai bentuk-bentuk Weda yang sudah tidak dipakai lagi pada zaman Panini.
Bahasa Sanskerta termasuk cabang Indo-Arya dari rumpun bahasa Indo-Eropa. Bersama dengan bahasa Iran, bahasa Sanskerta termasuk rumpun bahasa Indo-Iran dan dengan ini bagian dari kelompok Satem bahasa-bahasa Indo-Eropa, yang juga mencakup cabang Balto-Slavik.
Ketika istilah bahasa Sanskerta muncul di India, bahasa ini tidaklah dipandang sebagai sebuah bahasa yang berbeda dari bahasa-bahasa lainnya, namun terutama sebagai bentuk halus atau berbudaya dalam berbicara. Pengetahuan akan bahasa Sanskerta merupakan sebuah penanda kelas sosial dan bahasa ini terutama diajarkan kepada anggota kasta-kasta tinggi, melalui analisis saksama para tatabahasawan Sanskerta seperti Pāṇini. Bahasa Sanskerta sebagai bahasa terpelajar di India berada di samping bahasa-bahasa Prakreta yang merupakan bahasa rakyat dan akhirnya berkembang menjadi bahasa-bahasa Indo-Arya modern (bahasa Hindi, bahasa Assam, bahasa Urdu, Bengali dan seterusnya). Kebanyakan bahasa Dravida dari India, meski merupakan bagian rumpun bahasa yang berbeda, mereka sangat dipengaruhi bahasa Sanskerta, terutama dalam bentuk kata-kata pinjaman. Bahasa Kannada, Telugu dan Malayalam memiliki jumlah kata serapan yang terbesar sementara bahasa Tamil memiliki yang terendah. Pengaruh bahasa Sanskerta pada bahasa-bahasa ini dikenali dengan wacana Tat Sama ("sama") dan Tat Bhava ("berakar"). Sementara itu bahasa Sanskerta sendiri juga mendapatkan pengaruh substratum bahasa Dravida sejak masa sangat awal.

Bahasa Weda

Bahasa Sanskerta Weda atau disingkat sebagai bahasa Weda adalah bahasa yang dipergunakan di dalam kitab suci Weda, teks-teks suci awal dari India. Teks Weda yang paling awal yaitu Ṛgweda, diperkirakan ditulis pada milennium ke-2 SM, dan penggunaan bahasa Weda dilaksanakan sampai kurang lebih tahun 500 SM, ketika bahasa Sanskerta Klasik yang dikodifikasikan Panini mulai muncul.
Bentuk Weda dari bahasa Sanskerta adalah sebuah turunan dekat bahasa Proto-Indo-Iran, dan masih lumayan mirip (dengan selisih kurang lebih 1.500 tahun) dari bahasa Proto-Indo-Europa, bentuk bahasa yang direkonstruksi dari semua bahasa Indo-Eropa. Bahasa Weda adalah bahasa tertua yang masih diketemukan dari cabang bahasa Indo-Iran dari rumpun bahasa Indo-Eropa. Bahasa ini masih sangat dekat dengan bahasa Avesta, bahasa suci agama Zoroastrianisme. Kekerabatan antara bahasa Sanskerta dengan bahasa-bahasa yang lebih mutakhir dari Eropa seperti bahasa Yunani, bahasa Latin dan bahasa Inggris bisa dilihat dalam kata-kata berikut: Ing. mother /Skt. मतृ matṛ atau Ing. father /Skt. पितृ pitṛ.

Penelitian oleh bangsa Eropa

Penelitian bahasa Sanskerta oleh bangsa Eropa dimulai oleh Heinrich Roth (1620–1668) dan Johann Ernst Hanxleden (1681–1731), dan dilanjutkan dengan proposal rumpun bahasa Indo-Eropa oleh Sir William Jones. Hal ini memainkan peranan penting pada perkembangan ilmu perbandingan bahasa di Dunia Barat.
Sir William Jones, pada kesempatan berceramah kepada Asiatick Society of Bengal di Calcutta, 2 Februari 1786, berkata:
“ "The Sanskrit language whatever be its antiquity, is of a wonderful structure; more perfect than the Greek, more copious than the Latin, and more exquisitely refined than either, yet bearing to both of them a stronger affinity, both in the roots of verbs and in the forms of grammar, than could possibly have been produced by accident; so strong, indeed, that no philologer could examine them all three, without believing them to have sprung from some common source, which, perhaps, no longer exists." ”
“ "Bahasa Sanskerta, bagaimanapun kekunaannya, memiliki struktur yang menakjubkan; lebih sempurna daripada bahasa Yunani, lebih luas daripada bahasa Latin dan lebih halus dan berbudaya daripada keduanya, namun memiliki keterkaitan yang lebih erat pada keduanya, baik dalam bentuk akar kata-kata kerja maupun bentuk tata bahasa, yang tak mungkin terjadi hanya secara kebetulan; sangat eratlah keterkaitan ini, sehingga tak ada seorang ahli bahasa yang bisa meneliti ketiganya, tanpa percaya bahwa mereka muncul dari sumber yang sama, yang kemungkinan sudah tidak ada." ”
Memang ilmu linguistik (bersama dengan fonologi, dsb.) pertama kali muncul di antara para tatabahasawan India kuna yang berusaha menetapkan hukum-hukum bahasa Sanskerta. Ilmu linguistik modern banyak berhutang kepada mereka dan saat ini banyak istilah-istilah kunci seperti bahuvrihi dan suarabakti diambil dari bahasa Sanskerta.

Beberapa ciri-ciri

Kasus

Salah satu ciri-ciri utama bahasa Sanskerta ialah adanya kasus dalam bahasa ini, yang berjumlah 8. Dalam bahasa Latin yang masih serumpun hanya ada 5 kasus. Selain itu ada tiga jenis kelamin dalam bahasa Sanskerta, maskulin, feminin dan netral dan tiga modus jumlah, singular, dualis dan jamak:
  1. kasus nominatif
  2. kasus vokatif
  3. kasus akusatif
  4. kasus instrumentalis
  5. kasus datif
  6. kasus ablatif
  7. kasus genetif
  8. kasus lokatif

Contoh tulisan Sanskerta.
Di bawah ini disajikan sebuah contoh semua kasus sebuah kata maskulin singular deva (Dewa, Tuhan atau Raja).
Singular:
  1. nom. devas arti: "Dewa"
  2. vok. (he) deva arti: "Wahai Dewa"
  3. ak. devam arti: "ke Dewa" dsb.
  4. inst. devena arti: "dengan Dewa" dsb.
  5. dat. devāya arti: "kepada Dewa"
  6. ab. devāt arti: "dari Dewa"
  7. gen. devasya arti: "milik Dewa"
  8. lok. deve arti: "di Dewa"
Dualis:
  1. nva devau
  2. ida devābhyām
  3. gl devayos
Jamak:
  1. nv devās
  2. a devān
  3. i devais
  4. da devebhyas
  5. g devānām
  6. l deveṣu
Lalu di bawah ini disajikan dalam bentuk tabel.

Skema dasar tasrifan (deklensi) sufiks untuk kata-kata benda dan sifat

Skema dasar tasrifan bahasa Sanskerta untuk kata-kata benda dan sifat disajikan di bawah ini. Skema ini berlaku untuk sebagian besar kata-kata.

Tunggal Dualis Jamak
Nominatif -s
(-m)
-au
(-ī)
-as
(-i)
Akusatif -am
(-m)
-au
(-ī)
-as
(-i)
Instrumentalis -ā -bhyām -bhis
Datif -e -bhyām -bhyas
Ablatif -as -bhyām -bhyas
Genitif -as -os -ām
Lokatif -i -os -su
Vokatif -s
(-)
-au
( -ī)
-as
(-i)

Pokok-a

Pokok-a (/ə/ or /ɑː/) mencakup kelas akhiran kata benda yang terbesar. Biasanya kata-kata yang berakhir dengan -a pendek berkelamin maskulin atau netral. Kata-kata benda yang berakhirkan -a panjang (/ɑː/) hampir selalu feminin. Kelas ini sangatlah besar karena juga mencakup akhiran -o dari bahasa proto-Indo-Eropa.

Maskulin (kā́ma- 'cinta') Netral (āsya- 'mulut') Feminin (kānta- 'tersayang')
Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak
Nominatif kā́mas kā́māu kā́mās āsyàm āsyè āsyā̀ni kāntā kānte kāntās
Akusatif kā́mam kā́māu kā́mān āsyàm āsyè āsyā̀ni kāntām kānte kāntās
Instrumentalis kā́mena kā́mābhyām kā́māis āsyèna āsyā̀bhyām āsyāìs kāntayā kāntābhyām kāntābhis
Datif kā́māya kā́mābhyām kā́mebhyas āsyā̀ya āsyā̀bhyām āsyèbhyas kāntāyai kāntābhyām kāntābhyās
Ablatif kā́māt kā́mābhyām kā́mebhyas āsyā̀t āsyā̀bhyām āsyèbhyas kāntāyās kāntābhyām kāntābhyās
Genitif kā́masya kā́mayos kā́mānām āsyàsya āsyàyos āsyā̀nām kāntāyās kāntayos kāntānām
Lokatif kā́me kā́mayos kā́meṣu āsyè āsyàyos āsyèṣu kāntāyām kāntayos kāntāsu
Vokatif kā́ma kā́mau kā́mās ā́sya āsyè āsyā̀ni kānte kānte kāntās

Pokok -i dan -u

pokok-i

Mas. dan Fem. (gáti- 'kepergian') Netral (vā́ri- 'air')
Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak
Nominatif gátis gátī gátayas vā́ri vā́riṇī vā́rīṇi
Akusatif gátim gátī gátīs vā́ri vā́riṇī vā́rīṇi
Instrumentalis gátyā gátibhyām gátibhis vā́riṇā vā́ribhyām vā́ribhis
Datif gátaye, gátyāi gátibhyām gátibhyas vā́riṇe vā́ribhyām vā́ribhyas
Ablatif gátes, gátyās gátibhyām gátibhyas vā́riṇas vā́ribhyām vā́ribhyas
Genitif gátes, gátyās gátyos gátīnām vā́riṇas vā́riṇos vā́riṇām
Lokatif gátāu, gátyām gátyos gátiṣu vā́riṇi vā́riṇos vā́riṣu
Vokatif gáte gátī gátayas vā́ri, vā́re vā́riṇī vā́rīṇi
pokok-u

Mas. dan Fem. (śátru- 'seteru, musuh') Netral (mádhu- 'madu')
Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak
Nominatif śátrus śátrū śátravas mádhu mádhunī mádhūni
Akusatif śátrum śátrū śátrūn mádhu mádhunī mádhūni
Instrumentalis śátruṇā śátrubhyām śátrubhis mádhunā mádhubhyām mádhubhis
Datif śátrave śátrubhyām śátrubhyas mádhune mádhubhyām mádhubhyas
Ablatif śátros śátrubhyām śátrubhyas mádhunas mádhubhyām mádhubhyas
Genitif śátros śátrvos śátrūṇām mádhunas mádhunos mádhūnām
Lokatif śátrāu śátrvos śátruṣu mádhuni mádhunos mádhuṣu
Vokatif śátro śátrū śátravas mádhu mádhunī mádhūni

Pokok vokal panjang


Pokok ā (jā- 'kepandaian') Pokok ī (dhī- 'pikiran') Pokok ū (bhū- 'bumi')
Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak
Nominatif jā́s jāú jā́s dhī́s dhíyāu dhíyas bhū́s bhúvāu bhúvas
Akusatif jā́m jāú jā́s, jás dhíyam dhíyāu dhíyas bhúvam bhúvāu bhúvas
Instrumentalis jā́ jā́bhyām jā́bhis dhiyā́ dhībhyā́m dhībhís bhuvā́ bhūbhyā́m bhūbhís
Datif jé jā́bhyām jā́bhyas dhiyé, dhiyāí dhībhyā́m dhībhyás bhuvé, bhuvāí bhūbhyā́m bhūbhyás
Ablatif jás jā́bhyām jā́bhyas dhiyás, dhiyā́s dhībhyā́m dhībhyás bhuvás, bhuvā́s bhūbhyā́m bhūbhyás
Genitif jás jós jā́nām, jā́m dhiyás, dhiyā́s dhiyós dhiyā́m, dhīnā́m bhuvás, bhuvā́s bhuvós bhuvā́m, bhūnā́m
Lokatif jí jós jā́su dhiyí, dhiyā́m dhiyós dhīṣú bhuví, bhuvā́m bhuvós bhūṣú
Vokatif jā́s jāú jā́s dhī́s dhiyāu dhíyas bhū́s bhuvāu bhúvas

Hukum sandhi

Selain itu dalam bahasa Sanskerta didapatkan apa yang disebut hukum sandhi, sebuah fenomena fonetik di mana dua bunyi berbeda yang berdekatan bisa berasimilasi.

Pembentukan kata majemuk

Kata-kata majemuk dalam bahasa Sanskerta sangat banyak digunakan, terutama menyangkut kata-kata benda. Kata-kata ini bisa menjadi sangat panjang (lebih dari 10 kata). Nominal majemuk terjadi dengan beberapa bentuk, namun secara morfologis mereka sejatinya sama. Setiap kata benda (atau kata sifat) terdapat dalam bentuk akarnya (bentuk lemah), dengan unsur terakhir saja yang ditasrifkan sesuai kasusnya. Beberapa contoh kata benda atau nominal majemuk termasuk kategori-kategori yang diperikan di bawah ini.
  1. Avyayibhāva
  2. Tatpuruṣa
  3. Karmadhāraya
  4. Dvigu
  5. Dvandva
  6. Bahuvrīhi

Bahasa Sanskerta dalam beberapa aksara

Siwa meraksa.png

Kamis, 07 Februari 2013

SEJARAH WAYANG KULIT


WAYANG salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.
Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.


Daftar tokoh wayang


Daftar tokoh wayang menampilkan nama tokoh-tokoh yang muncul dalam wiracarita Ramayana dan Mahabharata yang sering dipentaskan dalam pertunjukan wayang.

Dewa-Dewi wayang

Dewa-Dewi dalam dunia pewayangan merupakan dewa-dewi yang muncul dalam mitologi agama Hindu di India, dan diadaptasi dalam budaya Jawa.
  1. Sang Hyang Adhama
  2. Sang Hyang Sita
  3. Sang Hyang Nurcahya
  4. Sang Hyang Nurrasa
  5. Sang Hyang Wenang
  6. Sang Hyang Widhi
  7. Sang Hyang Tunggal
  8. Sang Hyang Rancasan
  9. Sang Hyang Ismaya
  10. Sang Hyang Manikmaya
  11. Batara Bayu
  12. Batara Brahma
  13. Batara Candra
  14. Batara Guru
  15. Batara Indra
  16. Batara Kala
  17. Batara Kresna
  18. Batara Kamajaya
  19. Batara Narada
  20. Batara Surya
  21. Batara Wisnu
  22. Batara Yamadipati
  23. Batari Durga
  24. Batara Kuwera
  25. Batara Cingkarabala
  26. Batara Balaupata
  27. Hyang Patuk
  28. Hyang Temboro

Senin, 04 Februari 2013

KASUS RAFFI AHMAD: Ini Dia Versi Lain Kasus Narkoba Beredar di BBM

Oleh on Sunday, 3 February 2013


Raffi Ahmad
JAKARTA– Ini dia cerita versi lain tentang penggrebakan rumah Raffi Ahmad pekan lalu. Namun versi  cerita minggu sial di rumah artis ini belum beredar di  media massa.
Berikut ini kutipan cerita versi lain yang beredar di BBM: “My friends share dr seorang te man ,walaupun petugas BNN tetap lah Busuk.”
Kronologis kejadian Raffi Ahmad (Kebetulan Managernya teman saya, namanya Mira): Jam 3 dini hri mrk (Raffi + supir n’ managernya pulang syuting) sampai rumah jam 3.30an..
Bersamaan dengan itu datang temannya raffi 3 orang katanya mau numpang tidur disitu,raffi nggak enak nolaknya,ya udah dia suruh masuk n’ pada tidur di sofa bawah.
Apesnya temannya raffi ini udah target operasi polisi dan diikutin dari kemang,Kebetulan apesnya akhirnya kerumah Raffi (Jadi polisi KEBETULAN ke rumah raffi karna ikutin temannya itu,bukan udah mengintai rumahnya raffi selama 3 bulan) 10 menit kemudian datang Wanda Hamidah bawa formulir Caleg buat ngajak Raffi masuk ke partai dia.

Sabtu, 02 Februari 2013


BATAVIA AIR PAILIT: Penumpang Balikpapan Diarahkan Cari Maskapai Lain

Oleh on Thursday, 31 January 2013
 
 
 Www.thejakartapost.com
Ilustrasi
BALIKPAPAN–Ganti rugi tiket penumpang Batavia Air akibat keputusan pailit terhadap PT Metro Batavia masih menggantung seiring dengan belum adanya kepastian tindakan yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.
Kepala Kantor Otorita Bandara Sepinggan Wilayah VII Rustino Prawiro mengatakan pihaknya berupaya mensosialisasikan, mendata dan mengarahkan penumpang Batavia air yang telah memiliki tiket.
Pihaknya juga mengaku tidak mengetahui kepastian penggantian biaya tiket yang telah dikeluarkan para calon penumpang ini.
“Untuk sementara kami arahkan agar bisa mencari maskapai lain yang masih memiliki seat kosong. Kami hanya bisa

Catarina Migliorini Jual FOTO TELANJANGNYA Ke Majalah Playboy

Oleh on Friday, 4 January 2013

 Istimewa/google image
Catarina Migliorini
JAKARTA – Nama Catarina Migliorini sempat mencuat setelah dirinya melelang keperawanan untuk misi amal. Kini perempuan Brazil itu berani menjual foto-foto telanjangnya ke majalah dewasa Playboy.
Tidak disebutkan, langkahnya menjual foto telanjang ini dilakukan untuk amal atau bukan, seperti dilansir situs berita

Jumat, 01 Februari 2013




Punakawan versi Banyumas

bawor

Punakawan versi Banyumas mengisahakan ketika Sanghyang Ismaya menjadi Semar, turun ke bumi, Bumi masih awang-uwung, tak ada satupun makhluk hidup di bumi. Oleh karena itu kemudian Sanghyang Wenang menciptakan bayangan Semar menjadi sesosok manusia dengan postur tubuh yang relatif sama, diberi nama Bawor yang bertugas menemani Semar. Atas dasar dari kejadian itu, kemudian Bawor diakui sebagai anak tertua dari tokoh Semar. Anak kedua dan ketiga adalah Nala Gareng dan Petruk.

Tokoh Bawor adalah maskot masyarakat Banyumas. Ciri utama dari wayang kulit gagrag Banyumasan adalah nafas kerakyatannya yang begitu kental dan Ki Dalang memang berupaya menampilkan realitas dinamika kehidupan yang ada di masyarakat.

Riwayat gaya Jawatimuran adalah ketika Sang Hyang Ismaya turun ke bumi menjelma menjadi Semar, Semar diutus oleh Sang Hyang Tunggal agar menuju Keling, selanjutnya Semar membutuhkan teman. Bayang-bayangnya sendiri lalu dicipta menjadi bentuk yang hampir mirip dengannya, yang dinamakan Bagong.
Ba artinya bek, gong artinya gedhe. Juga dinamakan (Sanghyang) Bladu, Bla adalah belah/sigar, dho artinya loro, bahwa Bagong terjadi dari belahan yang menjadi dua.
Disebut Mangun Hadiwangsa, karena dia yang mempunyai kewajiban untuk membangun (mangun) agar wangsa (bangsa) menjadi baik atau adi. Nama lainnya Jamblahita. Jambla yang berarti bodoh, hita adalah temen (jujur). Ia bodoh tetapi jujur dan serius.

Semar dan Bagong diberi satu senjata. Namun, senjata tersebut diperebutkan berdua sehingga melebar dan berubah wujud manusia yang dinamai Saraganja serta menjadi kawan Semar.